Sukaryo Ksatria
Pemimpin Semarang
Kita harus belajar memberkati orang lain. Nikmati apa yang kita miliki bersama orang lain. Kata orang, umur hanyalah angka. Menurut saya uang juga hanya sebuah angka. Jika kita tidak bisa menaklukkan manifestasi uang itu, kita hanya akan tergilas dengan kebutuhan. Tuhan mau kita menjadi berkat bagi orang-orang. Jika kita tidak menemukan bahagia karena Tuhan, ya kita akan berusaha mencari bahagia dari dunia ini. Kalau kita ingin mengembangkan kapasitas hati kita, kita harus belajar memberi. Sebelum kita melepaskan orang lain, kita harus lepas dari diri kita sendiri (mengalami kemerdekaan, terobosan). Saya berani minta ke Pak Isman karena saya menerima sonship spirit. Saya anak Tuhan sehingga saya punya keyakinan. Bahkan saya sampaikan ke Pak Isman bahwa saya ingin mengadakan pertemuan di rumahnya tahun depan bersama dengan jemaat.
Ketika kita bergantung penuh dengan Tuhan, Ia pasti bukakan berkat bagi kita. Jika kita tidak ada spirit yang berhubungan dengan Tuhan (sonship spirit), maka yang masuk adalah roh kemiskinan. Dulu sebelum lahir baru kita sebagai manusia Adam yang pertama berjuang begitu keras untuk hidup. Tetapi Adam yang akhir adalah roh yang menghidupkan dan dikatakan “olehmu semua bangsa akan menjadi berkat”. Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Jadi, jangan hidup untuk mencari uang.
“Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Matius 6:26). Bapalah yang memberi makan, maka dari itu keterlaluan kalau kita yang manusia sampai mati karena kekurangan makan. “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?” (Matius 6:27). Satu yang Tuhan mau, “PERCAYA”. Percaya ini mudah dikatakan, tapi sulit sekali dihidupi. Karena kita tidak percaya bahwa Tuhan bisa menyediakan, pada akhirnya kita berusaha menyediakan. Ketika Adam dan Hawa makan buah pengetahuan baik dan jahat, tiba-tiba kesadarannya akan Tuhan hilang. Yang sebelumnya kekuatannya hanya dari Tuhan, seketika itu hancur dan tidak ada lagi Tuhan. Kemudian kesadarannya berubah menjadi kesadaran akan diri sendiri, kesadaran akan lingkungan. Mereka harus keluar dari taman Eden dan melihat betapa kerasnya tanah di bumi harus diusahakan. Mengapa mereka pada zaman itu berumur panjang? Saya dapati bahwa pada waktu itu bumi terkutuk dan manusia berat sekali untuk hidup. Bahkan untuk mempunyai anak saja, mereka perlu waktu berpuluh-puluh tahun. Di taman Eden semua tersedia, tapi waktu mereka keluar dari hadirat Tuhan, berat sekali hidup mereka. Kalau Saudara merasa berat atau seperti harus mengusahakan untuk hidup ya itu memang normal secara daging. Karena alam sudah terkutuk sehingga kita pun harus bekerja keras. Tetapi firman Tuhan katakan, “…carilah dahulu Kerajaan Tuhan dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”, berarti Tuhan mau kesadaran kita bangkit bahwa Tuhan itu ada. Selama ini kesadaran kita terbentuk dari apa yang kita lihat, kita rasa, kita sentuh, dan apa kata orang. Sedangkan kata firman Tuhan tidak seperti itu. Manusia hidup bukan dari roti saja, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan.
Di mata Tuhan, keindahan Salomo tidak ada apa-apanya dibanding dengan orang yang sudah dilahirkan kembali (Mat 6:28-29). Karena itu sebagai orangorang yang sudah dilahirkan kembali, kita bisa menceritakan kebesaran Tuhan dalam hidup kita. Namun bukan berarti kita menjadi orang yang malas karena percaya kepada Tuhan. Lalu kita hanya berdoa berdoa saja dan tidak mau bekerja. Dengarlah Tuhan. Sering kali yang menghalangi adalah diri kita sendiri. Kita yang menghalangi berkat Tuhan datang. Bahkan batasan-batasan yang kita buat menghentikan aliran kuasa Tuhan. Belajarlah menjadi orang yang siap kapan saja Tuhan bekerja. Jangan hanya melihat apa yang kelihatan sekarang, tetapi lihatlah apa yang tidak kelihatan. Tuhan bisa melipatgandakan karena matematikanya Tuhan dengan kita. Kalau kita bosan dalam mengikut Tuhan berarti tidak ada yang terjadi dalam hidup kita. Berarti kita harus datang dan masuk lebih dalam lagi dalam hadirat Tuhan. Kita harus mengalami transformasi dalam hidup kita. Tuhan tidak memanggil kita untuk begini-begini saja. Tuhan hendak membuat jalan-jalan yang baru. Kita juga terus ajak orang untuk datang pertemuan, datang sel grup dll. Buat banyak kesempatan untuk menjangkau orang-orang. Kita punya uang jangan hanya ditumpuk di bank. Pergunakanlah itu untuk kemuliaan Tuhan.
“Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” (Lukas 2:15). Buat apa Saudara mendapat penglihatan kalau Saudara tidak merespon penglihatan itu. Banyak orang senang dengan penglihatan, tapi tidak terjadi sesuatu dalam hidup mereka. Namun kita mau ada sesuatu yang diubahkan, hidup kita berubah. Waktu hidup kita berubah, dunia kita juga berubah. Dari ayat di atas saya dapatkan empat hal. Yang pertama terjadi ketika seseorang mengalami life transformed yaitu penasaran (mencari). Kita harus terus penasaran dengan Tuhan. Saya percaya Tuhan menyentuh orang-orang yang penasaran dalam hal Tuhan (Keluaran 3:1-2). Seperti contohnya adalah Musa. Yang kedua adalah pergi melihat. Setelah penasaran, kita harus pergi dan melihat/memeriksa. Terkadang kita juga harus pergi memeriksa panggilan kita. Sampai dimana pertumbuhan, otoritas atau power kita. Waktu saya berbicara dengan Pak Isman, saya juga menguji sampai dimana power saya. Kalau sudah berbicara tentang pekerjaan Tuhan tidak ada lagi malu-malu dan sifat-sifat lahiriah kita harus ditundukkan. Tuhan memanggil kita untuk memakai kita. Baik tua, muda, laki-laki, perempuan, Tuhan memanggil kita karena Dia mempunyai rancangan.
Ketiga, berjumpa dengan Tuhan. Kita perlu ada waktu khusus di tempat “rahasia” kita dimana kita berjumpa dengan Tuhan. Musa harus bertanya kepada Tuhan agar Musa mempunyai jawaban ketika ditanya oleh bangsa Israel. Perjumpaan dengan Tuhan membuat kita mempunyai pondasi yang kokoh untuk percaya. Perjumpaan dengan Tuhan cukup untuk melewati padang gurun yang harus kita lewati. Kalau kita tidak berjumpa dengan Tuhan, ketika ada ujian kita bisa hilang. Ada yang keluar jemaat karena tidak kunjung menikah. Ada yang keluar jemaat karena tidak ada pekerjaan. Ada yang keluar jemaat karena orang tua, karena hutang, karena takut dengan istrinya dsb. Jadi, semurah itukah Tuhan? Sehingga kita meninggalkan Dia karena semua hal itu. Atau dulu kita pernah berjumpa dengan Tuhan, tapi kemudian Iblis menawarkan tuhan yang lain dan kita tertipu. Memang ada ilah-ilah lain, tetapi kita harus menundukkannya. Masing-masing kita harus melewati padang gurun supaya hati menjadi kuat.
Terakhir, menyerahkan diri kepada Tuhan. Ini salah satu kunci agar kita bisa dipimpin oleh Tuhan. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati…” (Roma 12:1-2). Dulu manusia harus mempersembahkan binatang sebagai korban. Tetapi di Perjanjian Baru, kita sebagai manusia menjadi persembahan bagi Tuhan. Kita harus mempersembahkan roh, jiwa dan tubuh kita menjadi persembahan yang harum dan berkenan kepada Tuhan. Lalu berubahlah oleh pembaharuan budimu (transform your mind). Pikiran Kristus yang harus kita kenakan sehingga kita bisa membedakan apa yang baik, berkenan dan yang sempurna. Dan membuat perjalanan kita menjadi berhasil dan beruntung. 22122024 @Perayaan Minggu Maranatha Jubilee Semarang
No posts found!