Miliki keintiman dengan Kristus di dalam perjalanan iman

Pdt. Margono – Pemimpin Jakata

Beberapa waktu yang lalu Bandung membuat acara penjangkauan Natal. Di penjangkauan itu saya bagikan bahwa mengikut Tuhan adalah sebuah perjalanan iman. Dalam perjalanan itu Tuhan akan membawa kita ke dalam proses yang tidak mudah. Namun kita perlu benar-benar tahu bahwa maksud dan tujuan Tuhan itu luar biasa. Jika seseorang yang dipilih Tuhan sadar bahwa Tuhan sedang mempersiapkan dia, dia tidak akan pernah menyerah. “…Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kejadian 45:4-5). Yusuf menangkap tujuan besar dari Tuhan. Tuhan sudah berbicara bahwa akan ada kelaparan dan Tuhan mereka-reka Yusuf untuk mendahului keluarganya ke Mesir. Tuhan juga ingin kita di dalam tujuan besar-Nya supaya kita terus terfokus pada panggilan-Nya dan beriman.

Tuhan memiliki kuasa dalam keadaan kita (Yohanes 1:1-9). Siapa yang merasa sebagai orang pintar? Atau bangga dengan keadaannya? Sesungguhnya Tuhan memakai orang yang “lemah” untuk menunjukkan kuasa-Nya. Kalau kita merasa bisa, di situ kita bisa memakai opini atau pikiran kita dan menganalisa apa yang Tuhan nyatakan. Sebagai contoh, Tuhan memakai Rahab, perempuan yang tidak berharga di lingkungan sosial untuk melindungi dua pengintai Israel. Saya sudah lama bertobat dan dilahirkan kembali, tetapi terkadang saya merasa tidak layak. Akhirnya saya hanya menjadi good follower (pengikut yang baik) saja. Waktu saya memilih menjadi seperti itu, yang terjadi adalah tidak ada perintah. Saya tidak diberikan kepercayaan untuk memegang sesuatu. Lalu saya merasa sendiri dan merasa tidak berguna. Hati saya menginginkan, tapi saya malu. Namun saya kembali ingat bahwa ini adalah perjalanan iman. Ketika saya berjalan dalam panggilan Tuhan, dalam apa yang sudah Tuhan rancangkan, Tuhanlah yang menyertai saya. Dialah yang memberkati saya.

Waktu kita berbicara tentang opini, opini itu berasal dari pikikan kita. Tuhan berikan hati dan roh yang baru pada kita, lalu apa yang terjadi dengan pikiran kita kalau pikiran kita tidak diperbaharui? Dasar yang dapat mengubah pikiran kita adalah hati dan roh yang baru yang Tuhan berikan pada kita. Sekeras apapun kita berusaha mempertahankan opini kita, waktu Tuhan berbicara dan menyentuh kita, hal itu akan runtuh. “Kemudian datanglah firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan: “Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar.” (Kejadian 15:1). Kita bisa saja mengalami ketakutan, tetapi ketika Tuhan berbicara pada kita secara pribadi, kita akan merasa aman. Saya bekerja di sebuah perusahan asuransi. Tanggal 30 adalah deadline semua data harus masuk untuk dibukukan sebagai produksi. Ada satu perusahaan yang confirm by verbal bahwa dia setuju dengan perusahaan saya. Baru verbal (kata-kata) dan verbal tidak bisa dijadikan acuan untuk masuk ke sistem. Karena verbal maka bisa saja hal itu batal. Perjanjian itu harus ditulis di atas meterai dan disetujui satu pihak dengan pihak lainnya. Saya tidak bisa confirm karena masih verbal. Namun bos saya berusaha menjebak saya agar memanipulasi dan memasukkan itu ke sistem. Padahal jika terjadi apa-apa, sayalah yang bertanggung jawab karena saya yang tanda tangan dan nilainya milyaran. Saya memilih untuk tidak mau melakukan hal itu. Itulah dunia. Asuransi itu menjual janji atau jasa karena produknya memang tidak ada. Namun Tuhan tidak menjual janji. Kalau Tuhan berjanji Dia menyertai, maka Dia sungguh-sungguh menyertai.

Tuhan menuliskan perintah-Nya di dalam hati kita (2 Korintus 3:3). Jika perintah Tuhan sudah tertulis di hati kita, maka itu akan menciptakan opini yang sama seperti dari Tuhan. Ada meterai Roh Kudus yang hidup dalam kita. Namun apa yang kita rencanakan atau opinikan sendiri dan bukan dari Tuhan bisa melahirkan pemberontakan. Mengapa? Karena hati yang bertuliskan perintah itu tertutup oleh debu. Ketika kita perpanjangan STNK mobil atau motor, nomor rangkanya harus diperlihatkan. Kalau itu tertutup debu atau kotoran yang membuat nomor rangkanya tidak terlihat maka mobil itu akan dicurigai sebagai mobil bodong atau mobil curian. Demikian juga kita. Untuk memperlihatkan kita ini milik siapa maka apa yang tertulis di hati kita harus terlihat.

Sejak kecil saya tidak mau merepotkan orang lain. Itu menjadikan saya orang yang tidak bermental gampangan. Di tempat pekerjaan juga saya tidak mau menyusahkan orang lain. Selama saya bisa kerjakan sendiri maka saya kerjakan sendiri. Tahun lalu saya berusaha dibuat tidak ada apa-apanya di tempat saya bekerja. Tetapi ada yang menguatkan saya, mau direka-reka hal buruk apapun, saya dan keluarga aman saja. Saya harus pastikan firman Tuhan terukir dengan jelas di loh hati saya. Sehingga saya bisa bertindak sebagai manusia baru. Tuhan juga katakan, “jangan takut, Akulah perisaimu”. Inilah perjalanan. Semua yang terjadi dalam hidup kita tidak ada yang kebetulan. Waktu kita bergantung pada Tuhan, maka akan semakin banyak yang dimenangkan. Tuhan sudah memanggil kita, namun daging kita akan berusaha berbalik dan membuat pikiran kita berkecamuk. Jika hal itu terjadi maka kita hanya bisa bersujud dan bertobat. Tuhan memanggil kita bukan karena kita layak, tapi Tuhan yang melayakkan kita. Jadi jangan berkecil hati dan rendah diri. Ketika Tuhan memerintah atas kita, itu akan menciptakan sesuatu, melahirkan kehidupan, dan melepaskan yang terbelenggu.

Warta Jemaat

Miliki keintiman dengan Kristus di dalam perjalanan iman

Pdt. David Lontoh – Pemimpin Salatiga

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15). Sesungguhnya tanda kasih Tuhan yaitu ketika Ia memerintahkan kita sesuatu. Waktu kita melakukan perintah-Nya, kita mendapatkan berkat-berkat-Nya, sukacita, damai sejahtera dsb. Seorang polisi atau tentara pasti senang ketika ada perintah. Ada kebanggaan tersendiri waktu perintah diberikan. Sama halnya dengan kita sebagai orang-orang yang sudah dilahirkan kembali. Ada kebanggaan kita mendapat perintah. Kita bisa mengerti perkataan Tuhan. Bahkan perintah itu bisa mengalahkan emosionalnya kita. Manusia pada dasarnya emosional karena sudah jatuh dalam dosa. Lalu suka menghakimi orang lain dan diri sendiri. Karena itu kita harus memiliki hubungan dengan Tuhan karena di dalamnya ada sukacita, bahagia, dan damai sejahtera.

Betapa pentingnya keintiman dengan Kristus. Menjadi orang yang beragama Kristen tidak menjamin memiliki hubungan dengan Tuhan. Jika kita benar-benar terhubung dengan Tuhan, kita pasti kehendak Tuhan. “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 7:21). Jika kita intim dengan Tuhan, kita pasti melakukan kehendak Tuhan (Matius 28:19-20). Kalau kita sungguhsungguh seorang Kristen sejati, sungguh-sungguh memiliki hubungan dengan Yesus Kristus, kita akan suka bahkan cinta melakukan perintah Tuhan. “Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.” (Mazmur 112:1). Manusia sebenarnya tidak suka disuruh-suruh, tetapi waktu ia bertemu dengan Tuhan ia menjadi suka dengan perintah-Nya. Kita menjadi suka memberitakan Injil karena ada kasih Tuhan dalam kita.

“Dengan pekerjaan-Nya di kayu salib dan kebangkitan-Nya, Yesus memulihkan hubungan kita dengan Bapa dan mengubah hati kita. Tembok yang memisahkan kita telah diruntuhkan, dan sekarang tergantung kita untuk mengenal Dia dan menjadi intim dengan Dia.” Waktu kita dilahirkan kembali, kita sudah terkoneksi dengan Tuhan. Sekarang pertanyaannya apakah kita mau terus terkoneksi? Bagian kita adalah terus menghauskan dan lapar akan roti hidup itu. “Hubungan dengan Tuhan adalah berdasarkan kasih, ketaatan, takut akan Tuhan, kepercayaan, komunikasi, dan komitmen. Apa yang kita utamakan menjadi tuhan kita. Oleh karena itu, hubungan kita dengan Bapa harus menjadi prioritas.” Apa yang utama dalam hidup kita menjadi tuhan kita. Karena itu, hubungan dengan Tuhan harus menjadi prioritas. Waktu hubungan Tuhan menjadi prioritas, kita akan selalu berapi-api. “Memiliki hubungan dengan Tuhan berarti mengenal Dia; mengenal berarti mengabdikan diri untuk mengamati-Nya, merenungkan-Nya, mengenali-Nya, menemukanNya, memahami-Nya, menghormati-Nya, dan memiliki keintiman rohani dengan-Nya. Hubungan dengan Tuhan menjamin penyediaan semua yang kita butuhkan karena Dia, sebagai Bapa, menyediakan semua yang dibutuhkan anak-anak-Nya sebelum mereka memintanya. Hubungan kita dengan keluarga, teman, dan orang lain berbanding lurus dengan hubungan kita dengan Tuhan.” Ketika kita intim dengan Tuhan, hubungan kita dengan sesama juga bagus. Dalam pekerjaan juga kita akan bekerja dengan benar.

Banyak sekali orang memanfaatkan ayat firman Tuhan hanya untuk dirinya sendiri (Yoh 14:13-14). Berbicara minta apa saja pada Tuhan kita harus melihat ayat di atasnya yaitu “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa.” (Yohanes 14:12) dan di ayat 15, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Kita berani meminta sesuatu yang besar, yang bukan hanya untuk diri sendiri itu karena kita punya hubungan dengan Tuhan. Selain itu, kita berani meminta juga karena kita punya iman. Tuhan bisa mengaruniakan iman kepada kita. Iman timbul dari pendengaran firman Kristus. Pernyataan Tuhan datang saat kita intim dengan Kristus. Dan kita akan berbahagia karena mendengar Tuhan berbicara dan melakukannya

Untuk bisa intim dengan Tuhan, kita harus dilahirkan kembali (Yohanes 3:7). “Hubungan yang intim dengan Tuhan membawa lebih banyak terobosan daripada kerja keras seumur hidup. Terobosan apa yang dimaksud? Kalau hanya terobosan tentang pekerjaan atau hal yang ada di dunia saja itu Miliki keintiman dengan Kristus di dalam perjalanan iman WJ 15 02 FEBRUARI 2025 sementara. Hanya dalam kekristenanlah iman diberikan dengan “mengenal” Tuhan dan mengembangkan hubungan yang intim dengan-Nya. Tuhan selalu berinisiatif untuk mencari kita dan memperkenalkan diri-Nya, tetapi kita harus meresponi dan merindukan hubungan dengan-Nya.” Saudara rindu berhubungan dengan Tuhan atau tidak? Saudara lapar dan haus akan Dia atau tidak? Kejarlah keintiman dengan Tuhan. Waktu kita intim, kita pasti berani minta pada Tuhan. Tentu saja permintaan ini bukan hanya untuk diri sendiri melainkan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kita harus melihat apa yang Bapa kerjakan supaya kita bisa mengerjakan juga sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan kita (Yohanes 5:19-20). Bahkan pekerjaan yang lebih besar dari yang Yesus kerjakan. Jika di kota kita sudah terjadi yang luar biasa, banyak yang bertobat dan dibaptis, minta lagi yang lebih besar. Waktu kita menginginkan yang lebih besar, kita juga harus mengejar kekudusan. “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:48). Kejarlah kesempurnaan itu. Tidak ada lagi yang mengikat kita dan kita dipenuhi oleh kuasa Tuhan. Tuhan mau kita menjadi sempurna dan satu di dalam Dia (Yoh 17:19-23).

Warta Jemaat
Scroll to Top